Berita

ProofSpeaks: Kampanye Sosial “Bukti yang Bicara” Dorong Perlindungan Inklusif bagi Perempuan Tuli Pekerja dari Kekerasan Seksual
Jumat, 30 Oktober 2026

ProofSpeaks: Kampanye Sosial “Bukti yang Bicara” Dorong Perlindungan Inklusif bagi Perempuan Tuli Pekerja dari Kekerasan Seksual

ProofSpeaks: Kampanye Sosial “Bukti yang Bicara” Dorong Perlindungan Inklusif bagi Perempuan Tuli Pekerja dari Kekerasan Seksual.

 

 

Kekerasan seksual terhadap perempuan penyandang disabilitas masih menjadi persoalan sosial yang membutuhkan perhatian serius. Perempuan Tuli yang bekerja menghadapi tantangan berlapis, tidak hanya dalam memperoleh perlindungan dari tindakan kekerasan seksual, tetapi juga dalam menyampaikan kesaksian, mengomunikasikan kronologi kejadian, serta memperoleh kepercayaan dan dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Berangkat dari persoalan tersebut, Izzabilla Rahma Putri Kurniawan melalui penelitian tesis berjudul “Perancangan Kampanye Sosial Anti Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Tuli Bekerja” mengembangkan sebuah konsep kampanye sosial bertajuk ProofSpeaks dengan pesan utama “Bukti yang Bicara”. Penelitian tesisnya ini di bimbing oleh Dr. Sangayu Ketut Laksemi Nilotama.,M.Ds dan Dr. Agung Eko Budiwaspada.,M.Sn.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap pengalaman perempuan Tuli ketika menghadapi kekerasan seksual. Hambatan komunikasi, perbedaan cara penyampaian kronologi, serta minimnya bukti pendukung sering kali menyebabkan kesaksian korban diragukan. Selain itu, fenomena bystander effect atau kecenderungan orang di sekitar untuk tidak bertindak ketika menyaksikan suatu peristiwa turut memperbesar kerentanan korban.

Melalui wawancara dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND), Focus Group Discussion (FGD), dan studi literatur, penelitian ini mengidentifikasi kebutuhan akan sistem perlindungan dan pelaporan yang lebih ramah terhadap komunikasi Tuli. Hasil penelitian juga menunjukkan pentingnya meningkatkan literasi masyarakat mengenai kekerasan seksual terhadap perempuan penyandang disabilitas, sekaligus mendorong masyarakat agar lebih responsif ketika menghadapi indikasi kekerasan.

ProofSpeaks: Menghadirkan Komunikasi Visual yang Inklusif

Konsep ProofSpeaks dirancang dengan pendekatan Design-Based Research melalui metode Double Diamond, yang meliputi empat tahapan utama, yaitu Discover, Define, Develop, dan Deliver. Pendekatan ini memungkinkan proses perancangan dilakukan secara bertahap, mulai dari memahami persoalan, merumuskan kebutuhan pengguna, mengembangkan alternatif solusi, hingga mengevaluasi hasil perancangan.

Pesan “Bukti yang Bicara” menjadi landasan utama kampanye. Rekaman diposisikan sebagai media pendukung kesaksian korban, bukan sebagai persyaratan agar korban dipercaya. Dengan demikian, kampanye ini tidak bermaksud menggantikan suara maupun pengalaman korban, melainkan memperkuat posisi mereka dalam lingkungan sosial yang masih kerap meragukan kesaksian perempuan Tuli.

Implementasi kampanye dilakukan melalui berbagai media, mulai dari hero video tanpa audio (no-audio storytelling), konten edukasi Instagram, landing page, hingga pop-up booth sebagai ruang interaksi langsung dengan masyarakat. Materi edukasi mencakup isu kekerasan seksual, rape culture, hambatan komunikasi Tuli, panduan respons bagi masyarakat yang menyaksikan kekerasan (bystander guide), serta pengenalan konsep aksesori pelindung diri.

Strategi komunikasi tersebut dirancang untuk membangun empati masyarakat melalui pengalaman visual yang mudah dipahami dan tidak bergantung pada informasi verbal maupun audio.

Inovasi Aksesori Pelindung Diri Berbasis Teknologi

Salah satu aspek menarik dalam perancangan ProofSpeaks adalah eksplorasi produk berupa aksesori pelindung diri berbentuk pendant locket atau kalung yang mengintegrasikan teknologi kamera mikro dan sistem aplikasi pendamping.

Aksesori ini dirancang menyerupai perhiasan personal sehingga tidak menampilkan kesan alat medis maupun simbol yang memberikan label disabilitas kepada penggunanya. Kamera mikro berfungsi sebagai perangkat dokumentasi, sedangkan tombol darurat (panic button) ditempatkan pada bagian belakang aksesori. Melalui koneksi Bluetooth dengan aplikasi pendamping, pengguna dapat mengaktifkan perekaman, mengakses galeri, menyimpan rekaman ke cloud, maupun menghapus dokumentasi.

Pengembangan konsep ini menunjukkan bagaimana desain produk dan teknologi dapat dieksplorasi sebagai bagian dari pendekatan perlindungan yang lebih inklusif. Meskipun demikian, prototipe masih memerlukan pengujian lebih lanjut, khususnya terkait kenyamanan penggunaan, ergonomi, keamanan data, autentikasi pengguna, stabilitas koneksi, serta validasi bersama komunitas Tuli.

Uji coba awal dalam penelitian menunjukkan bahwa pendekatan storytelling visual membantu audiens memahami situasi korban tanpa membutuhkan terlalu banyak teks. Sementara itu, pengenalan konsep aksesori dinilai membantu memperjelas fungsi perlindungan dan alasan kampanye. Media interaktif dan booth juga berpotensi mendorong partisipasi serta penyebaran pesan kampanye.

Kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)

Perancangan ProofSpeaks memiliki keterkaitan erat dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam mendorong kesetaraan, perlindungan hak perempuan, aksesibilitas, dan penguatan institusi yang inklusif.

1. SDG 5 – Gender Equality (Kesetaraan Gender)

Kampanye ProofSpeaks mendukung upaya mengakhiri segala bentuk kekerasan terhadap perempuan melalui peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kekerasan seksual yang dialami perempuan Tuli. Perancangan ini juga menekankan pentingnya memberikan ruang perlindungan, penghormatan, dan pengakuan terhadap pengalaman perempuan penyandang disabilitas tanpa diskriminasi.

2. SDG 10 – Reduced Inequalities (Berkurangnya Kesenjangan)

Pendekatan komunikasi visual yang inklusif menjadi salah satu kontribusi utama penelitian ini. Penggunaan storytelling tanpa audio, konten visual yang mudah dipahami, serta pengembangan media pendukung yang mempertimbangkan kebutuhan komunikasi Tuli merupakan upaya mengurangi kesenjangan akses informasi dan perlindungan bagi kelompok penyandang disabilitas.

3. SDG 16 – Peace, Justice and Strong Institutions (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh)

ProofSpeaks mengangkat pentingnya akses terhadap keadilan bagi perempuan Tuli yang menjadi korban kekerasan seksual. Melalui edukasi publik dan eksplorasi teknologi dokumentasi, kampanye ini berupaya memperkuat kesadaran mengenai pentingnya sistem pelaporan yang inklusif, perlindungan korban, serta penanganan kasus yang memperhatikan kebutuhan komunikasi penyandang disabilitas.

4. SDG 9 – Industry, Innovation and Infrastructure (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)

Eksplorasi pendant locket yang mengintegrasikan kamera mikro, Bluetooth, aplikasi pendamping, dan penyimpanan berbasis cloud memperlihatkan potensi inovasi desain produk dalam menjawab persoalan sosial. Penelitian ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat diarahkan bukan hanya untuk kebutuhan komersial, tetapi juga untuk mendukung keselamatan, aksesibilitas, dan kualitas hidup masyarakat.

5. SDG 17 – Partnerships For The Goals (Kemitraan untuk mencapai tujuan)

Penelitian ProofSpeaks juga memiliki keterkaitan dengan SDG 17 melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam proses identifikasi masalah dan pengembangan solusi. Keterlibatan Komisi Nasional Disabilitas (KND) melalui wawancara, serta partisipasi kelompok masyarakat dalam Focus Group Discussion (FGD), menjadi bagian penting dalam memperoleh perspektif yang beragam mengenai tantangan perlindungan perempuan Tuli dari kekerasan seksual.

Desain sebagai Instrumen Perubahan Sosial

Melalui ProofSpeaks, penelitian ini menegaskan bahwa desain komunikasi visual tidak hanya berperan dalam menyampaikan pesan, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk membangun empati, meningkatkan literasi masyarakat, dan menawarkan alternatif solusi terhadap persoalan sosial.

Integrasi kampanye sosial, media digital, dan eksplorasi produk pelindung diri menjadi pendekatan yang mempertemukan aspek komunikasi, teknologi, dan kebutuhan pengguna. Namun, keberhasilan implementasinya tetap membutuhkan kolaborasi berkelanjutan dengan komunitas Tuli, lembaga perlindungan perempuan, institusi terkait, serta masyarakat luas.

Pada akhirnya, pesan “Bukti yang Bicara” mengingatkan bahwa setiap korban berhak didengar, dipercaya, dan mendapatkan perlindungan. Bukti bukanlah syarat untuk mengakui pengalaman korban, melainkan salah satu instrumen pendukung untuk memperkuat akses terhadap perlindungan dan keadilan.

Dengan mengintegrasikan prinsip kesetaraan gender, pengurangan kesenjangan, inovasi, dan keadilan, ProofSpeaks menjadi salah satu contoh bagaimana penelitian dan perancangan di bidang desain dapat berkontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), sekaligus mendorong terciptanya lingkungan kerja dan kehidupan sosial yang lebih aman, setara, serta inklusif bagi semua.

@magisterdesaintrisakti   @proofspeaks.id

Floatin Button
Floatin Button